Kamis, 06 Februari 2014

Kontraksi otot | Laporan Biologi

Visit to salambiologi.blogspot.com

I.     PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Teoritis
            Susunan saraf secara fungsional dapat dibagi menjadi dua yaitu susunan saraf motorik dan susunan saraf sensorik. Sebagian berperan menjadi saraf pusat dan sebagian lagi menjadi saraf perifer. Nervus ischiadicus merupakan salah satu saraf motorik somatik perifer. Nervus ischiadicus mempunyai beberapa akson yang keluar dari cornu anterior medulla spinalis. Kepekaan tiap akson Nervus ischiadicus mungkin saja memiliki tingkat kepekaan yang berbeda dalam mensarafi musculus gastrocnemius.
             Kepekaan tiap akson dari  saraf perifer (nervus ischiadicus) dapat diamati melalui pemberian rangsangan listrik tunggal pada nervus ischiadicus dengan intensitas yang berbeda (dimulai dari intensitas rendah ke intensitas tinggi : rangsangan subliminal, rangsangan liminal, rangsangan supraliminal, rangsangan submaksimal, rangsangan maksimal, rangsangan supramaksimal). Respon rangsangan diamati melalui kontraksi musculus gastrocnemius serta mengukur amplitudo (kekuatan) kontraksi dari otot tersebut.
             Otot dirangsang dengan rangsangan maksimal secara beruntun (multiple) dan frekuensi ditinggikan berpotensi menimbulkan beberapa gambaran kontraksi otot yang berbeda, seperti muscle twitch, treppe, summation contraction, incomplete tetanic contraction, complete tetanic contraction.
   Kekuatan kontraksi otot disamping dipengaruhi oleh antara lain tingkat kepekaan saraf yang melayaninya, cara perangsangannya, dan faktor pembebanan yang diberikan kepeda otot tersebut. Pembebanan pada otot dapat diberikan pada saat otot kontrakasi (after loaded) dapat juga diberikan pada saat sebelum otot kontraksi (preloaded). After loaded dan preloaded memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kekuatan kontraksi dan kerja otot.

B. Masalah
1. Bagaimana kepekaan saraf perifer ( nervus ischiadicus) dan pengaruhnya terhadap rekruitmen serabut otot dengan memberikan rangsangan subliminal, rangsangan liminal, rangsangan supraliminal, rangsangan submaksimal, rangsangan maksimal, dan rangsanagan supramaksimal?


2. Bagaimana pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan kerja otot
     (musculus gastronecmius)?
·         Pada pembebanan afterloaded (otot tidak tergang sebelum kontraksi)?
·         Pada pembebanan preloaded (otot teregang debelum kontraksi)?
·         Bagaimana kontraksi tetani (musculus gastrocnemius)?

C.  Tujuan
ü Mengamati dan mempelajari kepekaan saraf perifer ( nervus ischiadicus) dan pengaruhnya terhadap rekruitmen serabut otot dengan memberikan rangsangan subliminal, rangsangan liminal, rangsangan supraliminal, rangsangan submaksimal, rangsangan maksimal, dan rangsanagan supramaksimal.
ü Mengamati dan mempelajari pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan kerja otot (musculus gastronecmius).
·       Pada pembebanan afterloaded (otot tidak tergang sebelum kontraksi).
·       Pada pembebanan preloaded (otot teregang sebelum kontraksi).
ü Mengamati dan mempelajari kontraksi tetani (musculus gastrocnemius).

D. METODE KERJA
D.1 ALAT DAN BAHAN
« Statif, alat penulis & sekrup penyangga.
« Tempat beban & beban.
« Papan fiksasi & jarum fiksasi.
« Alat/jarum penusuk.
« Kimograf & kertas grafik
« Stimulator listrik.
« Larutan ringer & pipet.
« Benang.

D.2 TATA KERJA
D.2.1. KEPEKAAN SARAF PERIFER DAN PENGARUHNYA TERHADAP REKRUITMEN SERABUT OTOT
Untuk mengamati dan mempelajari kepekaan saraf perifer (n. ischiadicus) lakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Siapkan sediaan nervus ischiadicus dan musculus gastrocnemius.
2.    Tahanlah penulis kontraksi otot dengan sekrup penyangga.
3.    Berikan rangsangan tunggal (dengan menggunakan elektroda perangsang stimulator listrik) pada nervus ischiadicus dimuali dengan intensitas rangsangan yang paling kecil, selanjutnya secara bertahap besar intensitas rangsangan dinaikkan dengan intrerval waktu + 30 detik.
ð Setiap kali menambah intensitas rangsangan, drum kimograf harap diputar sekitar 0,5 cm supaya gambaran alat penulis pada kertas kimograf tidak tumpang tindih.
4.    Perhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf.
Dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas kimograf, tentukan besar:
-       Rangsangan subliminal
-       Rangsangan liminal
-       Rangsangan supraliminal
-       Rangsangan submaksimal
-       Rangsangan maksimal
-       Rangsangan supramaksimal

D.2.2.  PENGARUH PEMBEBANAN TERHADAP KEKUATAN KONTRAKSI DAN KERJA OTOT RANGKA
   Pembebanan pada otot dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
-       Pembebanan yang diberikan pada saat otot kontraksi (after loaded).
-       Pembebanan yang diberikan sebelum otot kontraksi (preloaded).
1.    Kontraksi “After loaded”.
     Untuk mengamati dan mempelajari kontraksi “after loaded” ikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Aturlah sekrup penyangga sehingga ujung sekrup penyangga penulis dan garis dasar (baseline) penulis tidak berubah. Dengan demikian panjang otot tidak akan berubah (tidak diregang oleh tempat beban mauapun beban yang ditambahkan).
b.    Dalam keadaan tanpa beban dengan rangsanglah nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal. Gambaran kontraksi otot yang diperoleh merupakan kontrol sebelum pembebanan.
v Setiap kali akan memberikan rangsanan jangan lupa memutar drum kimograf sekitar 0,75 cm dan memberi istirahat sediaan otot-saraf selama 30 detik antara satu rangsangan dengan rangsangan berikutnya.
v Selama jeda pemberian rangsangan, jangan lupa meneteskan larutan Ringer pada otot dan saraf.
c.    Putar kimorgaf + 1 cm, berikan beban 10 gram, kemudian beri  
     rangsang tunggal maksimal lagi.
d.   Ulangi tindakan ad. C dengan setiap kali menambah beban sebesar
     10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.
e.    Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf :
ð Hitunglah kerja otot (W ; work) untuk setiap pembebanan.


KERJA OTOT = BEBAN x PEMENDEKAN OTOT
 
 


·       Buatlah grafik yang menggambarkan hubungan antara besar
beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat).
·       Berilah penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut.

2.    Kontraksi “Preloaded”
Untuk mengamati dan mempelajari kontraksi “preloaded” ikuti langkah-langkah selanjutnya sebagai berikut:
a.    Ambillah semua beban dari tempat beban.
b.    Longgarkan sekrup penyangga yang menyangga penulis sehingga musculus gastrocnemius secara langsung menahan empat bebean. Aturlah letak penulis sehingga posisisnya horizontal.
c.    Rangsanglah nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal.
Ø Setiap kali akan memberikan rangsangn jangan lupa memutar drum kimograf sekitar 0,75 cm dan memberi istirahat sediaan otot-saraf selama 30 detik antara satu rangsangan dengan rangsangan berikutnya.
Ø Selama jeda pemberian rangsangan, jangan lupa meneteskan larutan Ringer pada otot dan saraf.
d.   Putar kimorgaf +/- 1 cm, berikan beban 10gram, kemudian beri rangsang tunggal maksimal lagi.
e.    Ulangi tindakan ad. D dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi.
f.     Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf :
ð  Hitunglah kerja otot (W ; work) untuk setiap pembebanan.


KERJA OTOT = BEBAN x PEMENDEKAN OTOT
 
 


·       Buatlah grafik yang menggambarkan hubungan antara besar
beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat).
·       Berilah penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut.

3.    KONTRAKSI TETANI

        Untuk mengamati dan mempelajari kontraksi tetani, lakukan langkah-langkah yang merupakan lanjutan dari langkah-langkah A diatas sebagai berikut:
1.    Berikan rangsangan maksimal secara beruntun (multiple maximal stimulus; successive maximal stimulus) dimulai dengan frekuensi rendah selama 3-5 detik, selanjutnya secara bertahap frekuensi rangsangan ditingkatkan dengan interval waktu sekitar 60  detik (untuk memberi istirahat yang  cukup bagi otot) sampai terjadi “complete tetanic contraction” (kontraksi tetani lurus). Jangan lupa menetesi sediaan otot dan saraf dengan larutan Ringer selama jeda pemberian rangsangan.
2.    Perhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf.
               Dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas kimograf, catatlah masing-masing data frekuensi rangsangan dan gambaran grafik kontraksi yang dihasilkan, selanjutnya masukkan data tersebut pada tabel data yang tersedia.

E.  HASIL PERCOBAAN
              Tabel E.1. Tabel Data Kepekaan Saraf Perifer
KEPEKAAN SARAF PERIFER
RANGSANGAN (Volt)
KONTRAKSI (cm)

(1 x perbesaran)
0.1 x 1
0.5 x 1
1.3 x 1
1.5 x 1

(10 x perbesaran)
0.2 x 10
0.4 x 10
0.5 x 10
0.7 x 10

                                                                                                                                                                                  

2
1.9
1.8
1.9


1.4
1.5
2.5
2.1

Besar  rangsangan subliminal     : < 0.1
Besar rangsangan liminal           : 0.1
Besar rangsangan supraliminal   : 0.5
Besar rangsangan submaksimal : 4
Besar rangsangan maksimal       : 5
Besar ragsangan supramaksimal : 7






                                                                        (Grafik 1)

Tabel E.2. Tabel Data Kontraksi After Loaded

KONTRAKSI AFTER LOADED
BEBAN (gram)
KONTRAKSI (cm)
KERJA (gram.cm)
15
25
0.3
-

4.5
-


Keterangan : Beban Maksimal adalah 25 gram


 









                                        (Grafik 2)


Tabel E.3. TABEL DATA KONTRAKSI PRELOADED

KONTRAKSI PRELOADED
BEBAN (gram)
KONTRAKSI (cm)
KERJA (gram.cm)
15
25
35
45
55
65
75
85
95
2.6
2
3
2
1.1
1
0.6
0.3
-
39
50
105
90
60.5
65
45
2.5
-

Keterangan : Beban Maksimal adalah 95 gram

GRAFIK KONTRAKSI PRELOADED

                                                                        (Grafik 3)


KONTRAKSI SUMASI-KONTRAKSI TETANI
Frekuensi Rangsangan
(kali/detik)
Kontraksi
 SUMASI (+/-)
Kontraksi
 TETANI (+/-)
1 x / detik
-
+
2 x / detik
+
-
3 x / detik
-
+
5 x / detik
-
+
10 x / detik
-
+
25 x / detik
-
-
50 x / detik
-
-
100 x / detik
-
-

Keterangan : + : Ada & - : Tidak Ada
(Hasil Pengamatan Kelompok kami hanya sampai 10 x / detik)

F. PEMBAHASAN
1.  Karakteristik Kontraksi Otot Rangka (Sloane, 2003)
a. Stimulus Ambang
Adalah voltase listrik minimum yang menyebabkan kontraksi serabut otot tunggal.
·      Respons all-or-none serabut otot
Jika stimulasi ambang telah tercapai; maka serabut otot akan merespons secara maksimal atau tidak sama sekali selama kondisi lingkungan serabut tidak berubah.
·      Dengan meningkatkan stimulus sampai melebihi ambang batasnya, tidak akan memperbesar respons serabut otot tunggal.
b. Kedutan Otot
(i)    Jika preparat otot distimulasi, maka setiap serabut otot dalam otot akan mematuhi semua hukum all-or-none tetapi serabut yang berbeda memiliki ambang yang berbeda pula.
(ii)            Jika derajat voltase stimulus meningkat maka serabut tambahan turut merespons.
(iii)         Kedutan otot (kontraksi maksimum keseluruhan otot) akan terjadi saat intensitas
       stimulus cukup untuk seluruh serabut.


2.    Kepekaan Saraf Perifer
Besarnya rangsangan yang diberikan pada nervus ischiadicus mempengaruhi kontraksi pada otot gastrocnemius. Otot memiliki stimulus ambang yaitu voltase listrik minimum yang menyebabkan otot berkontraksi. Jika stimulus tidak mencapai ambang batasnya maka otot tidak akan memberikan respon.
·           Rangsangan subliminal adalah rangsangan terkecil yang diberikan belum ada satu motor unit yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk kontraksi. Dalam praktikum kami, besar rangsangan subliminalnya adalah < 0.1. Dimana belum terjadi kontraksi. Ini menunjukkan bahwa katak yang kami uji cobakan belum mengalami adanya rangsangan yang mengalir, sehingga belum ada kontraksi otot dari katak.
·           Rangsangan liminal adalah rangsangan terkecil yang diberikan dan mulai terjadi kontraksi otot terkecil pertama kali. Dalam praktikum kami, besar rangsangan liminalnya adalah 0,1 volt dengan besar kontraksi 2 cm. Ini adalah saat pertama kali katak memberikan respon berupa kontraksi otot kepada rangsangan yang kami berikan. Hal ini menandakan bahwa satu unit saraf motorik pada katak itu telah berkontraksi.          
·           Rangsangan supraliminal adalah rangsangan terkecil yang diberikan dapat menyebabkan terjadinya kontraksi terkecil yang lebih besar daripada liminal. Dalam praktikum kami besar rangsangan supraliminalnya adalah 0,5 volt dengan kontraksi 1,9 cm. Hal ini menandakan bahwa serabut saraf lain juga mulai berkontraksi sehingga hasil kontraksi pada  kertas kimograf mengalami kenaikan.
·           Rangsangan submaksimal adalah rangsangan terkecil yang diberikan sehingga terjadi kontraksi yang besarnya mendekati nilai maksimalnya. Dari hasil pratikum kami, didapatkan rangsangan sebesar 4 volt dengan kontraksi 1,5 cm.
·           Rangsangan maksimal adalah rangsangan terkecil yang mengakibatkan semua serabut saraf memberikan reaksi dan menghasilkan kontraksi otot terbesar. Dari hasil pratikum kami besar rangsangannya adalah 5 volt dengan kontraksi otot sebesar 2,5 cm.
·           Rangsangan supramaksimal adalah rangsangan terkecil yang diberikan dapat menghasilkan kontraksi otot sebesar kontraksi otot maksimal. Hal ini dikarenakan seluruh serabut saraf dalam percobaan ini sudah aktif yakni berkontraksi saat rangsangan maksimal. Namun dalam praktikum kami rangsangan supramaksimal besar rangsangannya pada 7 volt dengan kontraksi otot sebesar 2,1 cm, hal ini tidak sama dengan rangsangan maksimal pada 5 volt yang menghasilkan kontraksi otot sebesar 2,5 cm.
Sebuah otot akan berkontraksi dengan cepat apabila tanpa melawan beban. Akan tetapi apabila diberi beban, kecepatan kontraksi otot akan menurun secara progresif seiring dengan penambahan beban. Besar beban meningkat sampai sama dengan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan otot tersebut, maka kontraksi otot akan menjadi nol atau tidak terjadi kontraksi otot sama sekali. Hal ini dikarenakan beban yang diberikan pada otot kekuatannya berlawanan arah dengan yang menggerakkan kontraksi otot.

3.    Kontraksi After loaded dan Preloaded
Kontraksi after loaded adalah peregangan yang diberikan saat otot berkontraksi. Sedangkan pre loaded adalah peregangan yang diberikan sebelum adanya kontraksi. Sehingga hasil kontraksi otot akan lebih besar saat after loaded daripada saat preloaded. Peregangan yang diberikan sebelum kontraksi menyebabkan otot mengalami kelelahan terlebih dahulu sebelum kontraksi. Ini mengakibatkan terjadinya pemendekan otot dan tidak ada kontraksi otot yang terjadi.
Dalam praktikum kami didapatkan bahwa data pada proses after load menunjukkan progres kontraksi otot yang semakin menurun akibat penambahan beban. Akan tetapi hasil percobaan kami pada pre loaded tidak sesuai dengan teori yang seharusnya perenggangan yang terjadi sebelum kontraksi mengakibatkan otot tidak dapat berkontraksi hal ini disebabkan kesalahan pengaturan alat statif dan penulis yang kurang rapat sehingga katak masih dpat berkontraksi. Selain itu juga waktu untuk membuat sendian terlalu lama menyebabkan kontraksi otot katak tidak cukup maksimal.

4.    Kontraksi Somasi dan Kontraksi Tetani
Kontraksi somasi merupakan hasil kekuatan kontraksi otot setelah adanya rangsangan yang mengalami relaksasi sempurna. Sedangkan kontraksi tetani dibagi menjadi dua yakni kontraksi tetani bergerigi dengan kontraksi tetani lurus. Kontraksi tetani bergiri ialah pertambahan panjang kekuatan kontraksi otot yang sempat mengalami relaksasi sempurna yang kemudian dirangsang kembali. Sedangkan kontraksi tetani lurus merupakan pertambahan kontraksi otot setelah dirangsang yang tidak mengalami relaksasi sempurna sehingga terbentuk diagram pada kertas kimograf berupa garis lurus.
 
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan :
1.      Kontraksi otot terjadi karena adanya rangsangan. Rangsangan tersebut ditangkap oleh reseptor sensorik yang kemudian mengubahnya menjadi implus saraf. Setelah melalui reseptor, impuls saraf tersebut akan diteruskan ke saraf pusat melalui serangkaian potensial aksi. Kemudian setelah diolah dalam saraf pusat menjadi informasi , maka akan diteruskan ke efektor melalu saraf motorik.
2.      Setiap serabut otot memiliki ukuran stimulus ambang tertentu yang dapat dilihat dari besarnya rangsangan liminal.
3.      Kontraksi sumasi berlangsung pada frekuensi rangsangan dimana otot rangka masih dapat berelaksasi.
4.      Frekuensi rangsangan yang begitu tinggi tanpa adanya relaksasi menyebabkan otot mengalami kontraksi tetani.
5.      Kerja otot menigkat seiring dengan bertambahnya beban sampai batas optimal, namun setelah itu kerja otot akan menurun.
6.      Kontraksi otot yang terus menerus menyebabkab kelelahan otot yang disebabkan karena penumpukkan asam laktat dan kekurangan ATP.
Besar kerja otot pada kontraksi Preloaded lebih besar dari pada besar kerja otot pada kontraksi Afterloaded, hal ini dikarenakan pada kontraksi Preloaded otot terlebih dahulu mengalami peregangan sebelum berkontraksi.


DAFTAR PUSTAKA

Guyton , John E hall. 2007. “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. Jakarta: EGC
Rumpis, Agus Sunarko. 2008.  “Fisiologi Latihan”. FIK UNY, Jogjakarta.
http://naimkurniawan.blogspot.com/2012/12/laporan-praktikum-saraf-otot-katak.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar